Pinjam Dulu Seratus

by - 2:00 PM

Saya sungguh tidak paham apakah ini warisan budaya kolektif (yang tentu negatif dan perlu dihindari) karena pola semacam ini lumrah saya temui di circle keluarga, bahkan di circle teman-teman dengan keluarga mereka masing-masing.

Bahwa sah-sah saja untuk pinjam uang ke saudara jauh, yang nantinya tentu saja syukur-syukur kalau dikembalikan.

Bahwa sah-sah saja untuk pinjam BPKB atau sertifikat berharga saudara untuk menjadi jaminan pinjaman.

Bahwa itu kewajiban saudara jauh untuk membantu hidup saudaranya yang lagi kesusahan.

This is so wrong in so many level.

Tentu saja pinjaman tsb. bukan atas nama si orang yang butuh duit. Risiko gagal bayar cicilan akan ditanggung oleh si pemilik aset/surat berharga. Sudahlah aset yang jadi jaminan hilang, uang pinjaman pun tidak ikut menikmati. Jika pinjaman tanpa agunan, tentunya si pemilik nama yang akan dikejar-kejar oleh debt collector sampai ke kantor; pada akhirnya reputasi yang dipertaruhkan. Istilah jawa, gupak pulut e tok. Baik boleh, bego jangan.

Pinjam uang satu, dua kali, tidak apa.

Namun, jika terus-terusan, yang bener aja?

Minta disupport biaya hidup bulanan, kamu siapa?

Waktu kami kesusahan, kalian ke mana?

Kalau bank saja menolak pengajuan pinjaman kamu, kenapa saya bisa menganggap kamu layak diberi pinjaman?

Yang tidak bisa mengelola uang tuh kamu, kenapa cashflow rumah tangga saya yang harus dikorbankan?

Dikira cari duit gampang; harus desek-desekan tiap hari di transum; kena pressure pekerjaan sampe hampir gila, trus duitnya buat nanggung biaya hidup kalian?

Kalau emang ga bisa afford sesuatu, berarti emang belum waktunya kamu untuk punya itu. Sesuatu itu bisa berarti rumah lah, gaya hidup lah, anak lah. Diem dulu deh.

Hidup kamu gak harus sama dengan mereka-mereka yang kamu lihat di layar ponsel kamu kok.

Compromise dengan isi dompetmu.

Sebagai konteks, orang-orang yang meminjam uang ini, bisa afford pakaian yang lebih mahal dari saya. Bisa afford face treatment yang harganya 3x lipat face treatment yang biasa saya gunakan. Bisa afford nonton konser. Memutuskan untuk punya jumlah anak lebih dari anjuran BKKBN.

Meanwhile, I don't have nor experience those things to this day.

Orang yang tidak mengenal saya akan berpikir, saya enteng ngetik kayak gini seolah-olah saya gak pernah di situasi yang gak punya uang.

Saya juga beberapa kali berada di posisi seperti itu. Oh uang tinggal sekian, berarti pas untuk makan di warteg sekian kali. Misal ga ada uang sama sekali, puasa dong. Saya tidak akan membuat situasi di mana saya menghadapi saldo Rp, 0,- ke depannya. Dalam situasi kepepet tidak punya uang, jika bersabar dan terus berusaha, akan rewarding nanti ke depannya. Pasti ada aja jalan keluar yang dikasih Tuhan.

Misalnya waktu kuliah dulu, saya tidak punya earning power at that time; cukup sering kejadian saya kehabisan uang untuk makan karena hanya bergantung pada transferan mama. Sisa uang yang ada, saya alokasikan untuk beli bensin untuk motor butut saya. Jaman dulu, belum ada m-banking ya, apalagi promo gofood. Saya akui saya tidak optimal dalam menjalani kuliah S1 dulu, karena saya sempat beberapa kali bolos untuk ikut proyek dosen dan alumni; bikin proposal PKM; ikut kelas kursus gratisan; apapun yang bisa bikin saya mendapatkan ilmu dan uang sendiri. Saya pernah pinjam uang sekali, dua kali ke teman saya, hanya untuk makan lalapan di daerah sekitar kampus. Pun itu kita makan bareng, di depan saya meminta tolong ditalangin dulu. Untuk makan; sesuatu yang esensial—cukup esensial menurut saya. Kalau untuk bantu cicil rumah? punten, bukannya itu kebangetan?

Saat kerja pun, saya ambil kos 2x2m yang selalu mereka tertawakan; padahal itu juga salah satu bentuk upaya saya untuk bisa menabung. Saya akui saya jadi public enemy di circle keluarga besar saya karena punya pemikiran seperti ini; dan saya tidak keberatan untuk itu.

For closure, here is the Quote that resonates with me the most, which I got from Mel Robbins, saying,

"Every time you bail someone who's terrible with money and you loan them the money, they continue to be terrible with money. They got to figure out how to do this themselves.

When you constantly rescuing people, you're teaching them that they're not capable of rescuing themselves."

Stay sane, folks.


You May Also Like

0 comments